Identitas Dayak Warnai Bali Fashion Trend 2025
Kekayaan seni dan budaya Kalimantan Timur kembali mencuri perhatian di panggung nasional melalui ajang Bali Fashion Trend 2025 yang digelar di Onyx Park Resort, Bali. Identitas Dayak tampil kuat dalam balutan fesyen kontemporer lewat koleksi terbaru Aemtobe by Anas Maghfur, yang menempatkan wastra Nusantara sebagai medium untuk menyampaikan narasi budaya sekaligus kepedulian lingkungan.
Dalam ajang tersebut, Aemtobe berkolaborasi dengan Bankaltimtara menghadirkan koleksi bertajuk Aroonaka Lundae. Koleksi ini tidak sekadar menampilkan busana, tetapi juga menyampaikan cerita tentang hubungan erat antara manusia, budaya, dan hutan Kalimantan yang selama ini menjadi sumber inspirasi sekaligus penopang kehidupan.
Narasi Budaya dalam Balutan Mode
Desainer Anas Maghfur dikenal konsisten mengolah tekstil tradisional ke dalam pendekatan modern. Pada Bali Fashion Trend 2025, ia mengeksplorasi simbol-simbol budaya Dayak yang dipadukan dengan isu lingkungan, menjadikan koleksi ini sarat makna dan relevan dengan konteks masa kini.
Anas menjelaskan bahwa Aroonaka Lundae lahir dari perpaduan dua akar bahasa. “Aroona atau Aruna dalam Sanskerta berarti cahaya fajar berwarna merah jingga, sementara Lundae dalam bahasa Dayak Kenyah berarti kucing,” ujarnya. Perpaduan makna tersebut merepresentasikan cahaya kehidupan hutan Kalimantan sekaligus penjaga keseimbangan ekosistemnya.
Simbol Satwa Endemik Kalimantan
Salah satu elemen paling menarik dalam koleksi ini adalah kehadiran satwa endemik Kalimantan, yakni kucing merah atau marbled cat. Spesies langka yang kini berstatus dilindungi ini dihadirkan sebagai simbol utama dalam koleksi, mewakili pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
Sosok kucing merah diterjemahkan melalui interpretasi motif batik yang abstrak dan kontemporer. Motif tersebut tidak digambarkan secara literal, melainkan diolah menjadi pola marbled yang organik, menciptakan narasi visual tentang keterhubungan antara alam, budaya, dan keberlanjutan.
Palet Warna dan Spirit Rimba
Spirit fajar rimba Kalimantan diterjemahkan ke dalam palet warna yang kuat dan berkarakter. Warna jingga aruna, merah hutan, hingga nuansa gelap anggrek hitam mendominasi koleksi ini. Kombinasi warna tersebut menghadirkan kesan hangat sekaligus misterius, mencerminkan dinamika alam hutan tropis Kalimantan.
Pilihan warna ini juga memperkuat pesan ekologis yang ingin disampaikan. Alam tidak hanya menjadi latar estetika, tetapi juga menjadi subjek utama yang diangkat dan dihormati melalui desain.
Siluet Maskulin Modern
Dari sisi desain, Aroonaka Lundae menampilkan siluet maskulin modern dengan sentuhan utilitarian. Potongan asimetris, detail layering, serta permainan panel kain menciptakan struktur busana yang dinamis. Desain ini merefleksikan gerak lincah satwa liar di habitat alaminya, sekaligus memberikan kesan fungsional dan kontemporer.
Motif marbled yang organik memperkuat kesan membumi, sejalan dengan filosofi koleksi yang menempatkan manusia sebagai bagian dari ekosistem, bukan sebagai penguasa alam.
Pernyataan Budaya di Panggung Nasional
Kehadiran Aroonaka Lundae di Bali Fashion Trend 2025 menjadi lebih dari sekadar partisipasi desainer daerah di ajang nasional. Koleksi ini merupakan pernyataan budaya Kalimantan Timur di ruang publik yang lebih luas, menunjukkan bahwa wastra Nusantara mampu berbicara lantang di panggung mode modern.
Melalui tangan desainer, tekstil tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai warisan, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bahasa desain yang relevan dengan generasi masa kini.
Pesan Ekologis dan Keberlanjutan
Anas Maghfur menegaskan bahwa figur kucing merah dalam koleksi ini memiliki makna mendalam. “Ia menjadi pengingat akan pentingnya menjaga satwa endemik dan hutan Kalimantan sebagai satu kesatuan ekosistem,” ujarnya. Pesan ini menjadi sangat relevan di tengah tantangan global terkait perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Fesyen, dalam konteks ini, menjadi medium komunikasi yang efektif untuk menyuarakan isu-isu lingkungan tanpa kehilangan nilai estetika.
Dukungan Ekonomi Kreatif Daerah
Partisipasi Kalimantan Timur dalam ajang ini juga mencerminkan upaya diplomasi budaya daerah. Dukungan Bankaltimtara menegaskan komitmen untuk mendorong ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, khususnya pengembangan fesyen dan wastra yang berakar kuat pada identitas daerah.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa sinergi antara dunia kreatif dan institusi keuangan dapat melahirkan karya yang tidak hanya indah, tetapi juga berdampak secara sosial dan budaya.
Menjembatani Tradisi dan Generasi Muda
Melalui Aroonaka Lundae, Aemtobe berupaya menjembatani generasi muda dengan nilai-nilai budaya leluhur dalam bahasa desain yang segar dan relevan. Koleksi ini menjadi inspirasi bahwa tradisi tidak harus ditinggalkan untuk menjadi modern.
Dengan pijakan pada identitas Dayak, daya saing global, dan keberpihakan pada keberlanjutan, koleksi ini menegaskan bahwa fesyen Indonesia memiliki kekuatan besar untuk berbicara di panggung nasional maupun internasional—tanpa kehilangan akar budayanya.
Baca Juga : Wabup Sidrap Tutup Bulcenesia Hoby Bola Cup 2025
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : mabar

