Perajin Barongsai Sidoarjo Banjir Pesanan Jelang Imlek
Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek, suasana sibuk tidak hanya terasa di pusat-pusat perbelanjaan atau tempat ibadah. Di sudut Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kesibukan juga hadir dalam bentuk yang unik: denting rangka barongsai, warna-warni kain, serta proses kreatif yang berlangsung di rumah-rumah perajin tradisional.
Jelang Imlek 2026, permintaan terhadap perlengkapan barongsai dan liong meningkat tajam. Para perajin yang selama ini menjaga warisan budaya tersebut kini kembali merasakan geliat ekonomi musiman yang membawa harapan besar.
Salah satu perajin yang masih bertahan dan terus produktif adalah Julius Setiawan, warga Desa Karangtanjung, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Di rumah sederhananya, Julius tengah menyelesaikan pesanan yang jumlahnya tidak sedikit: enam barongsai dan tiga liong yang harus rampung sebelum perayaan Imlek tiba.
Kesibukan ini menjadi bukti bahwa seni pertunjukan tradisional seperti barongsai masih memiliki tempat kuat dalam kehidupan masyarakat modern.
Pesanan Meningkat Dibanding Tahun Sebelumnya
Julius mengungkapkan bahwa tahun ini permintaan mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan tahun lalu. Hal ini terlihat dari jumlah pesanan yang datang lebih cepat dan lebih banyak, bahkan dari luar Pulau Jawa.
Menurut Julius, lonjakan ini menunjukkan bahwa barongsai bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan sudah menjadi bagian dari aktivitas komunitas dan olahraga budaya yang berkembang di berbagai daerah.
Bahkan, salah satu pesanan istimewa datang dari Nusa Tenggara Timur, wilayah yang cukup jauh dari pusat budaya Tionghoa di Jawa. Ini menandakan bahwa seni barongsai telah meluas dan diterima sebagai pertunjukan budaya yang lebih universal.
Komunitas Baru Jadi Pendorong Utama
Salah satu faktor utama yang membuat permintaan meningkat adalah munculnya komunitas barongsai baru di berbagai kota.
Banyak anak muda kini tertarik mempelajari barongsai bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bentuk olahraga seni yang membutuhkan kekuatan fisik, koordinasi, dan kekompakan tim.
Komunitas-komunitas baru ini tentu membutuhkan perlengkapan yang berkualitas. Barongsai bukan sekadar kostum biasa, tetapi alat pertunjukan yang harus kuat, ringan, dan memiliki estetika tinggi.
Karena itu, perajin seperti Julius menjadi tumpuan penting dalam menyediakan produk yang tidak bisa dibuat secara instan oleh pabrik massal.
Proses Pembuatan yang Tidak Sederhana
Membuat barongsai dan liong membutuhkan keterampilan khusus serta ketelitian tinggi. Setiap bagian dikerjakan dengan tangan, mulai dari rangka kepala, pengecatan detail wajah, pemasangan bulu, hingga penyesuaian kain badan.
Barongsai yang berkualitas harus mampu bergerak lincah saat dimainkan, tetapi juga cukup kuat menahan gerakan ekstrem dalam pertunjukan.
Selain itu, desain barongsai biasanya disesuaikan dengan permintaan pelanggan. Ada yang menginginkan warna merah emas klasik, ada juga yang memilih kombinasi modern yang lebih unik.
Proses ini membuat setiap barongsai terasa seperti karya seni, bukan sekadar produk dagang.
Imlek Jadi Momentum Ekonomi Perajin Lokal
Bagi para perajin, Imlek bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga momentum ekonomi tahunan yang sangat penting.
Pesanan biasanya mulai meningkat beberapa minggu sebelum Imlek, ketika komunitas dan vihara mulai mempersiapkan pertunjukan.
Dalam periode ini, perajin harus bekerja ekstra untuk mengejar tenggat waktu. Namun, di balik lelahnya pekerjaan, ada kebanggaan tersendiri karena karya mereka akan tampil di berbagai panggung perayaan.
Selain itu, meningkatnya permintaan juga membantu menjaga keberlangsungan usaha tradisional yang semakin jarang diminati generasi muda.
Barongsai sebagai Simbol Budaya dan Persatuan
Barongsai tidak hanya dikenal sebagai tradisi masyarakat Tionghoa, tetapi juga telah menjadi bagian dari budaya Indonesia yang lebih luas.
Pertunjukan barongsai sering hadir dalam festival kota, acara nasional, hingga perayaan lintas budaya. Banyak penonton dari berbagai latar belakang menikmati atraksi ini sebagai hiburan sekaligus simbol keberagaman.
Di banyak daerah, barongsai bahkan dimainkan oleh anak-anak muda dari berbagai suku dan agama, menunjukkan bahwa seni budaya bisa menjadi jembatan persatuan.
Karena itu, meningkatnya pesanan barongsai juga mencerminkan semakin kuatnya penerimaan budaya tradisional dalam ruang publik Indonesia.
Tantangan Perajin di Tengah Modernisasi
Meski permintaan meningkat, para perajin tetap menghadapi tantangan besar. Persaingan dengan produk impor murah, keterbatasan bahan baku, serta regenerasi perajin menjadi isu yang tidak bisa diabaikan.
Banyak perajin tradisional bekerja secara mandiri di rumah, dengan alat sederhana dan tenaga terbatas. Ketika pesanan membludak, mereka harus bekerja lebih lama tanpa banyak bantuan.
Namun, Julius dan perajin lainnya tetap bertahan karena mereka percaya bahwa barongsai buatan tangan memiliki nilai seni yang tidak bisa tergantikan oleh produksi massal.
Harapan untuk Industri Kreatif Tradisional
Lonjakan pesanan jelang Imlek 2026 membawa harapan besar bagi industri kreatif berbasis budaya tradisional.
Jika seni barongsai terus berkembang, maka peluang usaha bagi perajin lokal juga akan semakin terbuka.
Dukungan dari pemerintah daerah, komunitas budaya, hingga generasi muda sangat penting agar kerajinan barongsai tidak punah, melainkan terus hidup sebagai bagian dari identitas Indonesia yang kaya.
Kesimpulan: Tradisi yang Menghidupkan Ekonomi dan Budaya
Kesibukan perajin barongsai di Sidoarjo jelang Imlek 2026 menunjukkan bahwa tradisi bukan hanya soal perayaan, tetapi juga tentang ekonomi kreatif dan pelestarian budaya.
Dengan meningkatnya komunitas barongsai baru serta pesanan dari berbagai daerah, perajin seperti Julius Setiawan membuktikan bahwa karya tradisional masih sangat dibutuhkan.
Imlek menjadi momen di mana budaya, seni, dan ekonomi bertemu, menciptakan semangat baru bagi perajin lokal untuk terus berkarya dan menjaga warisan yang penuh makna.
Baca juga : 5 Daily Outfit ala Lomon Simpel dan Stylish
Cek Juga Artikel Dari Platform : faktagosip

