Tobatenun Perkenalkan Budaya Syukur Batak di Event Mauliate
Menjelang penghujung tahun, sebuah sudut di Sopo Del Tower tampil berbeda. Susunan sayur-mayur segar berpadu dengan kain ulos autentik menciptakan suasana hangat yang mengundang rasa ingin tahu. Instalasi ini merupakan hasil kolaborasi Tobatenun bersama Sopo Del dalam end year event bertajuk Mauliate.
Dalam bahasa Batak, Mauliate berarti “terima kasih”. Tema ini dipilih sebagai wujud rasa syukur menyambut penutupan tahun, sekaligus menjadi medium untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya Batak kepada khalayak yang lebih luas. Nuansa hangat yang dipenuhi sayur-mayur tersebut terinspirasi dari tradisi Gotilon, yakni perayaan syukuran panen di Tanah Batak.
Menggabungkan Tradisi dan Perayaan Akhir Tahun
CEO Tobatenun, Kerri Na Basaria Pandjaitan, menjelaskan bahwa ide Mauliate lahir dari keinginan menghadirkan perayaan akhir tahun yang tidak sekadar pesta, tetapi juga sarat makna budaya.
“Kita suka bikin end year celebration, tapi tahun ini ingin sesuatu yang berbeda. Tidak cuma party, tapi bisa sekalian kenalin adat Batak,” ungkap Kerri saat ditemui di sela acara.
Setelah berdiskusi dengan tim, Kerri memutuskan mengangkat tradisi Gotilon karena dianggap belum banyak dikenal masyarakat luas. Tradisi ini kemudian diolah kembali agar relevan dengan selera masa kini tanpa menghilangkan esensi budayanya.
“Kita bikin event yang mengombinasikan festival Gotilon dengan end year, lalu kita kemas lebih modern,” tambahnya.
Apresiasi dari Tokoh Nasional
Konsep Mauliate mendapat sambutan positif, termasuk dari Luhut Binsar Pandjaitan, Ketua Dewan Ekonomi Nasional Indonesia. Ia menilai upaya Tobatenun sebagai langkah penting dalam menjaga dan merawat kekayaan budaya Nusantara.
“Kita harus memelihara budaya kita. Jadi saya pikir Tobatenun sudah mengambil bagian dari itu,” ujar Luhut.
Apresiasi tersebut menegaskan bahwa pendekatan kreatif dalam memperkenalkan budaya dapat menjadi bagian dari diplomasi budaya yang relevan dengan konteks kekinian.
Nuansa Kekeluargaan yang Hangat
Setiap acara yang diusung Tobatenun selalu membawa misi menghadirkan rasa hangat layaknya berkunjung ke rumah saudara. Hal ini juga terasa kuat dalam Mauliate.
“Aku ingin setiap orang yang datang bisa merasakan hangatnya tradisi Batak dan kekeluargaan,” tutur Kerri.
Misi tersebut tersampaikan melalui instalasi artistik yang tidak hanya memanjakan visual, tetapi juga mengundang interaksi. Pengunjung diajak berjalan menyusuri instalasi, merasakan atmosfer syukuran panen, dan memahami makna di balik setiap elemen yang ditampilkan.
Mengubah Persepsi tentang Budaya Batak
Melalui Mauliate, Tobatenun juga ingin memperkenalkan sisi lain budaya Batak yang kerap luput dari perhatian. Selama ini, budaya Batak sering diasosiasikan dengan karakter keras dan tegas. Padahal, di balik itu tersimpan nilai kekeluargaan, kehangatan, dan rasa syukur yang kuat.
“Kita mau orang datang, ikut, dan melibatkan diri. Jadi bukan hanya orang Batak saja yang bisa mengapresiasi budayanya sendiri,” ujar Kerri.
Dalam acara tersebut, banyak pengunjung yang bertanya tentang arti Mauliate dan tradisi Gotilon. Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, percakapan tentang budaya Batak pun mengalir dengan ringan dan menyenangkan.
“Hal sederhana seperti ini bisa dilakukan dengan cara yang lebih riang,” ungkapnya.
Budaya sebagai Ruang Dialog
Mauliate tidak hanya menjadi instalasi seni atau perayaan akhir tahun, tetapi juga ruang dialog budaya. Dengan pendekatan yang hangat dan inklusif, Tobatenun berhasil menjembatani tradisi Batak dengan audiens urban yang mungkin sebelumnya tidak memiliki kedekatan dengan budaya tersebut.
Perpaduan ulos, hasil bumi, dan konsep visual modern menunjukkan bahwa tradisi tidak harus terkungkung dalam bentuk lama. Ia bisa hidup, berkembang, dan relevan ketika dihadirkan dengan bahasa yang sesuai zamannya.
Melalui Mauliate, Tobatenun menegaskan bahwa rasa syukur adalah nilai universal. Dan lewat budaya Batak, nilai itu dapat dibagikan kepada siapa saja—lintas suku, lintas generasi—dalam suasana yang hangat, akrab, dan penuh makna.
Baca Juga : Bunda PAUD Kota Malang Apresiasi Fashion Show Baju Adat Nusantara
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : suarairama

