Ketika Saku Menghilang dari Pakaian Perempuan
Sejak lama, pakaian perempuan dirancang dengan pertimbangan estetika yang lebih dominan dibanding fungsi. Keindahan siluet, kelembutan garis, dan kesan anggun kerap ditempatkan di atas kebutuhan praktis sehari-hari. Padahal, jika menengok ke belakang, perempuan pernah memiliki ruang simpan yang cukup—bahkan luas—di pakaian mereka. Fakta ini sering terlupakan dalam sejarah mode modern.
Pada abad ke-16 hingga ke-17, perempuan di Eropa mengenal tie-on pockets, yaitu kantong kain terpisah yang diikatkan di pinggang dan disembunyikan di balik rok berlapis. Kantong ini bukan sekadar aksesori tambahan, melainkan bagian penting dari keseharian perempuan. Di dalamnya tersimpan uang, kunci, alat jahit, catatan kecil, hingga barang pribadi lain yang menandai otonomi mereka dalam mengelola hidup sehari-hari.
Menariknya, tie-on pockets tidak terikat langsung pada busana utama. Hal ini memberi perempuan kendali penuh atas apa yang mereka bawa, tanpa bergantung pada tas atau bantuan orang lain. Pada masanya, keberadaan kantong ini bahkan dapat dibaca sebagai simbol kemandirian: perempuan bergerak, bekerja, dan bertransaksi dengan membawa “ruang privat” mereka sendiri.
Namun, perubahan besar terjadi ketika dunia mode mulai mengagungkan siluet ramping dan pinggang kecil. Pada abad ke-18 dan ke-19, rok menjadi semakin struktural, korset mengencangkan tubuh, dan busana perempuan diarahkan untuk membentuk figur ideal sesuai selera sosial saat itu. Dalam logika desain baru ini, saku dianggap mengganggu bentuk tubuh, menambah volume yang “tidak perlu”, dan merusak garis busana yang halus.
Sejak saat itu, saku perlahan dihilangkan dari pakaian perempuan. Jika pun ada, ukurannya diperkecil, dijahit tertutup, atau bahkan hanya menjadi hiasan semu—sekadar garis jahitan tanpa fungsi. Mode perempuan bergerak ke arah visual yang lebih “bersih”, tetapi kehilangan dimensi utilitarian yang sebelumnya begitu melekat.
Penghilangan saku ini bukan sekadar persoalan teknis desain. Ia mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang peran perempuan. Ketika ruang gerak perempuan dipersempit—baik secara fisik maupun sosial—kebutuhan akan fungsi praktis dianggap tidak lagi penting. Perempuan diharapkan tampil, bukan bergerak; terlihat, bukan membawa.
Sebaliknya, pakaian laki-laki justru berkembang dengan saku yang semakin banyak dan fungsional. Dari jas, rompi, hingga celana, saku menjadi standar. Ia mendukung mobilitas, pekerjaan, dan aktivitas di ruang publik. Perbedaan ini menciptakan ketimpangan yang terasa hingga kini: perempuan sering kali harus membawa tas tambahan hanya untuk menyimpan ponsel atau kunci, sementara laki-laki dapat memasukkannya ke saku.
Di era modern, kritik terhadap minimnya saku pada pakaian perempuan kembali menguat. Media sosial dipenuhi keluhan tentang saku palsu, gaun tanpa ruang simpan, atau celana yang tak muat untuk ponsel. Gerakan ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan juga soal hak atas fungsi. Banyak desainer independen dan merek berkelanjutan mulai merespons dengan menghadirkan busana perempuan yang fungsional tanpa mengorbankan estetika.
Kembalinya saku ke pakaian perempuan dapat dibaca sebagai upaya merebut kembali sesuatu yang pernah ada—bukan inovasi baru, melainkan restorasi. Sejarah menunjukkan bahwa perempuan tidak selalu dipisahkan dari fungsi dan kepraktisan. Justru mode lah yang kemudian memilih untuk menghilangkannya.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang saku adalah pertanyaan tentang siapa yang diberi ruang. Ruang untuk bergerak, menyimpan, dan mengatur hidup sendiri. Ketika saku kembali hadir secara utuh di pakaian perempuan, ia bukan hanya detail desain—melainkan pernyataan kecil tentang kemandirian yang besar.
Baca Juga : Nike Tracksuit yang Dipakai Nicolás Maduro Saat Ditangkap Ludes Terjual di AS dan Eropa
Cek Juga Artikel Dari Platform : wikiberita

