IAM Hadir Membawa Wajah Baru Kurasi Mode Lokal Indonesia
Di tengah geliat industri mode lokal yang semakin dinamis, kehadiran sebuah platform baru sering kali menjadi penanda perubahan cara pandang terhadap fashion itu sendiri. Bukan lagi semata tentang tren cepat atau kuantitas koleksi, tetapi tentang bagaimana sebuah karya mode bisa dirasakan, dipahami, dan dimaknai secara personal. Dari lanskap inilah IAM memperkenalkan dirinya sebagai ruang kurasi mode yang menawarkan pendekatan berbeda di Indonesia.
IAM tidak menempatkan dirinya sebagai platform e-commerce konvensional. Sejak awal, platform ini dirancang sebagai ruang digital yang menghubungkan desainer dan audiens melalui narasi, proses kreatif, serta nilai yang terkandung di balik setiap karya. Mode diposisikan sebagai medium ekspresi, bukan sekadar produk konsumsi. Pendekatan ini menjadikan pengalaman berbelanja di IAM terasa lebih personal dan reflektif, seolah mengajak pengunjung untuk berhenti sejenak dan benar-benar “hadir” dalam memilih busana.
Filosofi tersebut tercermin kuat dalam kampanye perdananya yang mengusung tema Obscuring Overtures: A Study of Presence, Absence, and Intention. Kampanye ini bukan hanya memperkenalkan koleksi, tetapi juga membuka dialog tentang kehadiran dan ketiadaan dalam desain. Setiap potongan busana diperlakukan sebagai narasi visual yang menyimpan makna, mengajak pemakainya untuk menafsirkan sendiri cerita yang ingin disampaikan.
Dalam kampanye perdananya, IAM menggandeng sejumlah desainer lokal yang telah dikenal dengan karakter kuat dan konsistensi visi kreatif. Nama-nama seperti Aesthetic Pleasure, ANW x LUA, BYO, IKYK, Jan Sober, Jessica Priscilla, St. Yarra, hingga Tanah Le Saé menghadirkan koleksi yang tidak sekadar estetis, tetapi juga konseptual. Setiap label menyuguhkan eksplorasi yang berbeda—mulai dari permainan struktur dan siluet, pertemuan antara rigid dan fluid, hingga sentuhan nostalgia yang dikemas dalam bahasa modern.
Kurasi menjadi kata kunci utama dalam perjalanan IAM. Tidak semua koleksi dapat masuk ke dalam platform ini. Setiap karya melalui proses seleksi yang ketat untuk memastikan bahwa nilai desain, kualitas, dan keunikan tetap terjaga. Pendekatan ini sekaligus menjawab kebutuhan audiens mode yang semakin kritis dan selektif, yang tidak lagi hanya mencari pakaian, tetapi juga identitas dan cerita di baliknya.
Lebih dari sekadar etalase digital, IAM berupaya membangun hubungan emosional antara desainer dan pemakainya. Platform ini melihat potensi besar pada desainer lokal Indonesia yang sering kali belum mendapatkan ruang representasi yang optimal. Dengan menempatkan desainer sebagai pusat narasi, IAM menciptakan ekosistem yang saling menguatkan—di mana karya mendapat panggung yang layak, dan audiens mendapatkan pengalaman yang lebih bermakna.
Pendekatan imersif juga terasa dari cara IAM menyajikan koleksi. Visual, deskripsi, hingga alur eksplorasi dirancang untuk mengajak pengguna menyelami ide dan proses kreatif di balik busana. Mode tidak lagi tampil sebagai objek pasif, melainkan sebagai pengalaman yang bisa dirasakan secara utuh. Inilah yang membedakan IAM dari banyak platform belanja daring lainnya.
Dalam konteks industri mode Indonesia yang semakin kompetitif, kehadiran IAM membawa angin segar. Platform ini tidak berlomba dalam kecepatan atau volume, melainkan dalam kedalaman dan kualitas pengalaman. IAM seolah mengajak publik untuk memperlambat langkah, mengamati detail, dan memahami bahwa mode dapat menjadi refleksi diri yang intim.
Ke depan, IAM membuka kemungkinan baru bagi perkembangan mode lokal. Dengan fondasi kurasi yang kuat dan visi yang jelas, platform ini berpotensi menjadi ruang penting bagi dialog kreatif antara desainer dan audiens. Bukan hanya tentang apa yang dikenakan, tetapi tentang mengapa kita memilihnya dan makna apa yang ingin kita bawa.
Melalui langkah awalnya, IAM menunjukkan bahwa mode lokal Indonesia memiliki kekayaan narasi dan potensi yang luar biasa. Dengan menghargai proses, desain, dan makna, IAM menegaskan posisinya sebagai platform kurasi mode yang tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang dapat dirasakan dan diingat.
Baca Juga : Polemik Ajang Indonesia Now di New York Fashion Week
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : ngobrol

